Category Archives: POJOK INSPIRASI

jempol

Penghargaan Kepada Pegawai Teladan dan Favorit KPPN Jakarta VII

Sebagai bentuk apresiasi atas kinerja luar biasa para pegawai, KPPN Jakarta VII melaksanakan pemilihan pegawai teladan dan favorit tahun 2014. Pengumuman pemenang serta penyerahan plakat penghargaan dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 10 Februari 2015 pada acara yang dipimpin oleh Kepala KPPN Jakarta VII, Ibu Heny Muryantini dan dihadiri oleh segenap pegawai dan peserta magang.

nilai-kehidupan

Nilai Kehidupan

Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.

Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.

“Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini,” katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.

kisah inspiratif 1

Demi Sebuah Rahasia

Jakarta 1950

“Aduh, Ayah! Mengapa tidak bilang terlebih dahulu bahwa akan diadakan pemotongan uang? Yaaa, uang tabungan kita tidak ada gunanya lagi! Untuk membeli mesin jahit sudah tidak bisa lagi, tidak ada harganya lagi?”

Sepotong kalimat bernada sedikit penyesalan itu terlontar dari mulut Rachmi Hatta, istri Wakil Presiden saat itu, Mohammad Hatta. Ceritanya, Ibu Rachmi yang ingin membeli mesin jahit telah menabung sedikit demi sedikit dengan cara menyisihkan sebagian dari penghasilan yang diberikan Bung Hatta. Namun, ketika tabungannya telah cukup untuk membeli mesin jahit idamannya, tiba-tiba saja pemerintah waktu itu mengeluarkan kebijakan sanering (pemotongan nilai uang) dari Rp100 menjadi Rp1. Walhasil, nilai tabungan yang sudah dikumpulkan Rachmi menurun sehingga tidak cukup untuk membeli mesin jahit. Padahal yang mengumumkan sanering itu adalah Bung Hatta, suaminya sendiri.