Demi Sebuah Rahasia

kisah inspiratif 1

Jakarta 1950

“Aduh, Ayah! Mengapa tidak bilang terlebih dahulu bahwa akan diadakan pemotongan uang? Yaaa, uang tabungan kita tidak ada gunanya lagi! Untuk membeli mesin jahit sudah tidak bisa lagi, tidak ada harganya lagi?”

Sepotong kalimat bernada sedikit penyesalan itu terlontar dari mulut Rachmi Hatta, istri Wakil Presiden saat itu, Mohammad Hatta. Ceritanya, Ibu Rachmi yang ingin membeli mesin jahit telah menabung sedikit demi sedikit dengan cara menyisihkan sebagian dari penghasilan yang diberikan Bung Hatta. Namun, ketika tabungannya telah cukup untuk membeli mesin jahit idamannya, tiba-tiba saja pemerintah waktu itu mengeluarkan kebijakan sanering (pemotongan nilai uang) dari Rp100 menjadi Rp1. Walhasil, nilai tabungan yang sudah dikumpulkan Rachmi menurun sehingga tidak cukup untuk membeli mesin jahit. Padahal yang mengumumkan sanering itu adalah Bung Hatta, suaminya sendiri.

Lalu, apa yang disampaikan Bung Hatta kepada istrinya yang mempunyai panggilan akrab Yuke itu?

“Yuke, seandainya Kak Hatta mengatakan terlebih dahulu kepadamu, nanti pasti hal itu akan disampaikan kepada ibumu. Lalu, kalian berdua akan mempersiapkan diri, dan mungkin akan memberi tahu kawan-kawan dekat lainnya. Itu tidak baik!”

“Kepentingan negara tidak ada sangkut-pautnya dengan usaha memupuk kepentingan keluarga. Rahasia negara adalah tetap rahasia. Sungguh pun saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada siapapun. Biarlah kita rugi sedikit, demi kepentingan seluruh negara. Kita coba menabung lagi, ya!”

Itulah salah satu kisah yang menunjukkan integritas seorang Bung Hatta. Beliau pantang menyalahgunakan posisi dan wewenangnya sebagai pejabat negara untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Ia memegang teguh amanat yang diberikan rakyat dengan penuh tanggung jawab.

Andai saja Bung Hatta mau memanfaatkan posisinya saat itu, sebenarnya sangatlah mudah baginya untuk mendapatkan mesin jahit untuk istri tercintanya. Bung Hatta dapat meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalannya. Namun, Bung Hatta tidak melakukannya. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri. Bung Hatta sudah mencerminkan bahwa dia tidak hanya jujur, namun juga uncorruptable (tidak terkorupsikan). Ia tidak mau menodai kejujuran hatinya dengan melakukan tindak korupsi. Bung Hatta adalah tipe pemimpin yang tidak berdiri di atas menara gading kekuasaannya. Ia hadir di tengah rakyat, juga merasakan apa yang rakyat rasakan, menanggung derita yang sama sebagaimana yang diderita rakyat.

Print Friendly

One Response to Demi Sebuah Rahasia

  1. Bu Kanmenko says:

    sederhana profilnya, luar biasa visinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × three =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>